Langsung ke konten utama

TOKOH BETAWI PROTES SINETRON YANG LECEHKAN BUDAYANYA

TOKOH BETAWI PROTES SINETRON YANG LECEHKAN BUDAYANYA

Depok -- Pemimpin Lembaga Kebudayaan Betawi dan tokoh masyarakat harus memprotes stasiun televisi yang menayangkan sinetron yang melecehkan budaya Betawi. Permintaan itu disampaikan Ali Shahab dalam seminar bertema "Betawi dan Jakarta: Tinjauan Budaya" yang diadakan di kampus Universitas Indonesia kemarin. Menurut Ali, sutradara film dan sinetron, LKB harus proaktif dan segera meminta stasiun televisi menghentikan tayangan tersebut.

Ali Shahab yang menjadi Ketua Betawi Intellectual Network menyebut sejumlah sinetron yang masuk kategori di atas, antara lain Kecil-kecil Jadi Manten (RCTI), Norak tapi Beken (SCTV), dan Bajaj Bajuri (Trans TV). Dia mengaku risi dengan peran yang dimainkan Sukma Ayu dalam Kecil-kecil Jadi Manten, sebagai perawan Betawi yang menggunduli kepalanya. "Apalagi perawan ini diceritakan tekdung (hamil) di luar nikah akibat pergaulannya dengan pacarnya yang banci," katanya.

Lalu, dalam sinetron Norak tapi Beken, peran Malih Tong Tong digambarkan bukan hanya menempatkan istri tua dan istri muda dalam satu rumah, tapi juga tidur dalam satu ranjang. "Ini hal yang tidak pernah dilakukan orang Betawi yang punya akhlak," kata Shahab yang menyutradarai sinetron Nyai Dasima itu. Sementara itu, dalam Bajaj Bajuri, Mat Solar memerankan Bajuri, tukang bajaj yang mandul dengan jumlah sperma yang tidak memadai untuk membuahi ovum Oneng, istrinya. Oneng digambarkan sebagai istri yang bodoh, sedangkan mertua Bajuri yang diperankan Nani Wijaya, digambarkan sebagai orang yang otoriter, egois, serakah, mata duitan, dan gila TV.

Belakangan, kata Shahab, setelah mendapat rating yang tinggi dari AC Nielsen, Bajaj Bajuri diputar secara stripping sepanjang minggu. Dia menyayangkan komedi yang awalnya jadi hiburan keluarga ini sudah kehilangan arah. Hampir tiap episode selalu bicara soal obat kuat, bisnis alat vital Mak Erot. "Sekarang pemirsa yang menonton bareng anaknya menjadi jengah mendengar istilah-istilah miring yang diucapkan Bajuri," kata Shahab, yang pendapatnya ini disetujui banyak peserta seminar.

Ali Shahab juga melihat diskriminasi kebijakan pemerintah Orde Baru terhadap kesenian Betawi sejak dasawarsa 1980-an. Hal itu misalnya terlihat dengan fasilitas yang diberikan untuk "Aneka Ria Srimulat" di Taman Ismail Marzuki dan Taman Ria Remaja Senayan. "Ada semacam gerakan bawah tanah berupa 'JAWANISASI BUDAYA' yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Jawa di pemerintahan Orba," kata Shabab yang membawakan makalah berjudul "Orang Betawi: Digusur di Kampung, Dilecehkan di Televisi".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FORKABI SIAP BERJIHAD BERSAMA CAGUB DKI 2017 BILA BERSANDING DENGAN NACHRAWI

FORKABI SIAP BERJIHAD BERSAMA CAGUB DKI 2017 BILA BERSANDING DENGAN NACHRAWI  jakarta 09/09/2016 tmsuaraforkabi. Syamsudin Marwan awak media Suara Forkabi mengungkapkan hasil safari keliling wilayah ,seluruh kader Betawi khususnya kader Forkabi menginginkan dan siap berjihad bilamana Bang Nara panggilan akrab Nachrawi maju dalam pilkada 2017. Hal ini cukup berlasan karena tokoh kita ini telah mempunyai segudang pengalaman akan Mampu memimpin DKI Jakarta yang lebih baik.anggota Forkabi adalah kader yang militan mempunyai intelektualitas yang tinggi dan tingkat loyalitas yang tidak diragukan lagi. “Seluruh instrumen alat perjuangan yang di miliki Forkabi akan bekerja keras dan maksimal untuk memenangkan” jelas pria yang biasa disapa bang Udin di kawasan Senopati. Seluruh anggota Forkabi sangat yakin jakarta akan lebih kondusif dan maju bila Nachrawi dipercaya memimpin ibukota. Forkabi telah memiliki jaringan dan kepengurusan sampai tingkat RT/RW ,mempunyai ja...

# Si Pitung Perampok atau Pemberontak?

Si Pitung Perampok atau Pemberontak? Oleh Ridwan Saidi Si Pitung selama delapan tahun (1886 – 1894) telah meresahkan Batavia. Penasehat pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera Snouck Hurgronje mengecam habis-habisan kepala polisi Batavia Schout Hijne yang tak mampu menangkap Pitung. Hurgronje menganggap amat keterlaluan kalau seorang Eropa seperti Hijne sampai harus berdukun untuk dapat menangkap Pitung. Hurgronje menganggap kepala polisi ini sangat tidak terpelajar yang tak mampu memperhitungkan kehadiran alat transportasi baru, kereta api, yang dengannya Pitung dapat hilir mudik. Lebih menggusarkan lagi Pitung dapat meloloskan diri dari penjara Meester Cornelis ketika tertangkap pada tahun 1891. Tidak hanya itu, di luar penjara Pitung masih sempat membunuh Demang Kebayoran, yang menjadi musuh petani-petani Kebayoran dan telah pula menjebloskan saudara misan Pitung, Ji’ih, ke penjara dan kemudian dihukum mati. Margriet van Teel dalam laporan penelitiannya tahun 1984 sebagaimana di...

Cinta Yang Royal Sendi x sent